Showing posts with label Career. Show all posts
Showing posts with label Career. Show all posts

Friday, April 22, 2011

Kebijakan Ramah Perempuan, Sudahkah Diterapkan oleh Perusahaan?

Perempuan tidak semestinya ditempatkan pada pilihan bekerja atau menjadi ibu rumah tangga. Perempuan memiliki hak sepenuhnya untuk mampu menjalani multi peran sebagai ibu, individu, makhluk sosial, termasuk di dalamnya sebagai pekerja. Apalagi, jika secara individu perempuan memiliki kompetensi dan talenta yang setara dengan pria dalam merintis karir, kesempatan untuk bersaing dengan para pria di dunia kerja semakin terbuka lebar. Yang menjadi persoalan, terkadang multi peran pekerja perempuan yang juga bertanggung jawab sebagai seorang istri, ibu dan individu ini belum mendapatkan dukungan sepenuhnya dari perusahaan. Apakah perusahaan sudah memiliki kebijakan yang ramah bagi perempuan bekerja?



Perlu Kesadaran Bersama untuk Menerapkan Kebijakan yang Ramah Perempuan

Dilema yang seringkali melanda banyak perempuan bekerja disebabkan perempuan ingin menjalankan multi perannya secara maksimal, namun terkadang perusahaan belum mendukung para perempuan untuk leluasa bekerja. Oleh karena itu, kebijakan yang ramah perempuan perlu diterapkan oleh perusahaan. Prinsipnya mendukung perempuan bekerja agar tetap mampu mengaktualisasi diri tanpa meninggalkan perannya sebagai ibu yang juga  kalah pentingnya. Sayangnya, di Indonesia belum banyak perusahaan yang menerapkan kebijakan yang ramah bagi perempuan bekerja. Misalnya dengan menyediakan ruang penitipan anak atau ruang menyusui di tempat bekerja.

Banyak perusahaan yang belum menyadari perlunya menyediakan fasilitas yang mendukung bagi perempuan bekerja. Menurut Maria Dewantini Dwianto, Head of Corporate Communications PT Unilever Indonesia Tbk, penyediaan fasilitas seperti ruang menyusui masih dilihat perusahaan sebagai cost,bukan investasi. Padahal penerapan kebijakan yang mendukung peran dan “keistimewaan” perempuan ini merupakan modal bagi perusahaan untuk membangun loyalitas karyawan. Di sisi lain, Tara Hidayat, Deputi IV Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan menyatakan bahwa banyak perempuan bekerja yang belum menunjukkan urgensi kebutuhan kantor ramah perempuan karena adanya budaya menitipkan anak pada keluarga atau pengasuh anak. “Banyak perempuan Indonesia yang masih sangat bergantung pada keluarga, seperti menitipkan anak pada nenek, kakek, kakak, adik juga pada pengasuh anak. Berbeda dengan perempuan di luar negeri yang terlihat lebih independen”, paparnya. Sehingga perusahaan pun tidak menyadari kebutuhan untuk mengakomodasi para pekerja perempuan di kantor mereka.

Diperlukan pemahaman, baik bagi perusahaan maupun perempuan itu sendiri, bahwa perempuan, setelah menikah bukan berarti tidak lagi produktif. Perempuan tetap mampu berkarya, berkontribusi bagi perusahaan dan sebaliknya perusahaan juga berhak mendukung serta memfasilitasinya. Pada prinsipnya adalah hubungan timbal balik. Menurut Emma Aliudin, Editor in Chief Chic Magazine, perusahaan memiliki kewajiban dan tanggung jawab terhadap pekerja. Dan sebaliknya pekerja juga memiliki hak dan tanggung jawab terhadap perusahaan.  Kedua pihak ini harus memiliki komitmen untuk  menjalankan tanggung jawab masing-masing dan memberi kontribusi yang maksimal untuk mencapai tujuan bersama. “Perempuan memiliki ‘keistimewaan’ seperti haid, mengandung dan mereka mendapatkan hak tambahan untuk itu. Tapi mestinya, keistimewaan ini tidak dijadikan pembenaran atau pemakluman untuk bekerja di bawah standar yang diharapkan”, papar Emma ketika dihubungi melalui email. Meskipun secara hukum para pekerja wanita dilindungi oleh Undang-Undang, tapi bagaimanapun di dunia kerja yang dibutuhkan adalah sikap profesional, jadi keistimewaan perempuan ini juga tidak semestinya bisa dijadikan permakluman di dunia kerja.

Dengan pemahaman dan kesadaran bersama ini, maka perusahaan yang lebih akomodatif terhadap perempuan bekerja tidak akan sulit diterapkan di Indonesia. Sebaliknya, pekerja perempuan juga akan merasa memiliki tanggung jawab atas kebijakan ramah perempuan yang diterapkan kepadanya, sehingga mampu memberikan kontribusi bagi perusahaan.

Unilever, Contoh Perusahaan yang Menerapkan Kebijakan Ramah Perempuan

Meski perusahaan yang memiliki kesadaran dan menerapkan kebijakan ramah perempuan di Indonesia saat ini masih tergolong jarang, namun beberapa perusahaan multinasional di Indonesia rata-rata sudah menjalankan kebijakan ini. PT. Unilever Indonesia Tbk. adalah salah satu contoh perusahaan multinasional yang sangat memperhatikan kesejahteraan karyawannya, tidak terkecuali pekerja perempuan. Menurut Emmy Siswanto, Tim HRD PT. Unilever Tbk yang ditemui saat Sosialisasi Unilever Future Leader Program di MM UGM, 31 Maret 2011 lalu menyatakan, banyak perusahaan yang mungkin sudah merumuskan kebijakan yang ramah perempuan, namun pada kenyataannya aplikasinya tidak maksimal. Dirinya mengaku, PT. Unilever Indonesia Tbk. sangat memperhatikan fasilitas perempuan dan semua hak-hak pekerja perempuan itu sudah disepakati bersama di dalam PKB (Persetujuan Kerja Bersama).  Sebagai pekerja perempuan dan juga ibu rumah tangga, Emmy sangat diuntungkan karena tempatnya bekerja menerapkan flexy hours, sehingga para orang tua tetap diberikan kesempatan untuk meluangkan waktu bagi kepentingan keluarga. “Misalnya jika anak sakit di tengah jam kerja karyawan diperbolehkan untuk ijin, atau ketika orang tua harus mengambil rapor anak di sekolah”, paparnya. Lebih lanjut Emmy mengungkapkan, PT. Unilever Indonesia Tbk. juga menerapkan kebijakan working at home dimana setiap karyawan diperbolehkan bekerja dimana saja, termasuk bekerja dari rumah dengan difasilitasi perangkat kerja dari kantor seperti laptop, modem dan telepon genggam. Selama hari kerja yakni Senin – Jumat, karyawan juga berhak untuk memanfaatkan 1 hari untuk bekerja dari rumah.

Menurut Emmy, kebijakan yang ramah perempuan semacam ini penting diterapkan oleh perusahaan karena para perempuan ini juga berperan sebagai orang tua yang memiliki kewajiban untuk mendidik anak dan berhak mendapat dukungan dari tempatnya bekerja. Lagipula, perusahaan juga menetapkan target yang wajib dipatuhi oleh karyawannya. Jadi jika target perusahaan bisa dipenuhi dengan baik, maka karyawan pun layak mendapatkan haknya.

Hal yang sama juga turut dirasakan Astri Wahyuni, Tim HRD PT. Unilever Indonesia Tbk yang saat ini mengaku masih menyusui anaknya. Astri tidak pernah merasa khawatir ketika bekerja karena perusahaan menyediakan fasilitas baby day care dan ruang menyusui yang sangat nyaman dan dikelola oleh tenaga profesional.

Josef Josef Bataona, HR Director PT. Unilever Indonesia Tbk. mengungkapkan, Program daycare atau penitipan anak yang dilengkapi kegiatan edukasi dari sekolah Langkah Ku ini rutin diadakan setiap tahun pada masa kritis, yakni dua minggu menjelang dan sesudah Idul Fitri. Meski belum permanen, program ini dinilai Josef memberikan dampak positif bagi orangtua bekerja. Karyawan menjadi lebih loyal karena merasa diperhatikan kebutuhannya oleh perusahaan, dan juga lebih produktif karena tidak khawatir meninggalkan anak saat bekerja. Dukungan dari Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, saat meresmikan daycare pada 31 Agustus 2010 lalu, menjadi langkah pendorong untuk mewujudkan perusahaan ramah perempuan.

Untuk menerapkan kebijakan ini memang dibutuhkan biaya yang tidak sedikit. Oleh karena itu dukungan dari berbagai pihak sangat diperlukan agar kebijakan yang diterapkan PT. Unilever Indonesia Tbk. ini bisa dicontoh oleh banyak perusahaan lain. Dengan dukungan dan kesadaran, maka kebutuhan perempuan bekerja akan perusahaan yang memerhatikan perannya sebagai ibu, akan lebih tersuarakan.

Kebijakan ini perlu dipahami sebagai investasi untuk mencetak karyawan yang produktif dan loyal. Jadi karyawan tenang, perusahaan pun senang. Adil bukan? (Rahma)

Siap Berburu, Siap Dilirik



Jobfair memang seperti pasar, ramai dan penuh persaingan. Namun jangan sampai banyaknya saingan membuat nyali Anda ciut. Persiapkan untuk menjual diri Anda ke perusahaan incaran dan bersiaplah berburu dengan modal berikut ini 

UPDATE CV
Persiapkan CV terbaru Anda sebelum mengunjungi jobfair. Jika pada jobfair sebelumnya CV Anda tidak dilirik perusahaan, jangan putus asa, mungkin ada yang kurang pada CV Anda. Cari informasi mengenai penulisan CV yang baik dan buat ulang CV Anda semenarik mungkin. Ingat, seleksi administrasi, termasuk CV adalah tahap seleksi paling awal yang dapat menentukan Anda lolos atau tidak ke tahap selanjutnya. Jadi pandailah menjual dan menawarkan potensi diri Anda melalui CV.
Cetak beberapa CV dan cover letter pada kertas yang representative. Persiapkan lebih dari satu karena mungkin Anda akan membutuhkan untuk keperluan bersifat administratif. Jika jobfair yang Anda kunjungi menggunakan metode paperless, maka Anda hanya perlu menyiapkan softcopy CV dan surat lamaran dalam flashdisk. Beberapa jobfair seperti yang diselenggarakan ECC UGM sudah menggunakan sistem register online, dimana Anda harus mengupload CV di situs jobfair terlebih dahulu. Sistem ini semakin memudahkan Anda karena akan menghemat banyak waktu sehingga Anda bisa terhindar dari antrean.

GO, DRESS UP!
Kesan pertama akan selalu tercipta lewat penampilan. Itu sebabnya, jangan sampai Anda datang dengan penampilan seadanya. Tampil Dress up layaknya Anda sedang melamar pekerjaan atau menghadapi interview. Tidak perlu dandan atau berpenampilan yang berlebihan, cukup kenakan pakaian rapi dan formal seperti celana bahan, kemeja dan sepatu tertutup. paling tidak, penampilan ini menunjukkan bahwa Anda bersungguh-sungguh untuk melamar pekerjaan.

JAGA KONDISI
Cukup istirahat menjadi modal penting bagi Anda sebelum mengunjungi jobfair. Jangan lupa makan dahulu agar Anda berenergi, karena gula darah yang rendah akan membuat Anda kehilangan konsentrasi. Kondisi badan yang fit sangat menunjang sehingga Anda lancar mengikuti setiap tahapan test.

SIAP WALKING INTERVIEW
Sebelum mengunjungi jobfair, tidak ada salahnya mempersiapkan diri untuk latihan wawancara. Dengan begitu, jika diminta langsung wawancara Anda bisa tampil percaya diri dan meyakinkan. Siapkan pula kalimat untuk memperkenalkan diri secara singkat, menunjukkan kelebihan dan kekurangan Anda. Jangan lupa untuk memepelajari terlebih dahulu mengenai seluk beluk perusahaan dan jenis pekerjaan yang Anda incar. Ini akan membantu Anda untuk menjawab pertanyaan mengapa Anda tertarik untuk bekerja di perusahaan tersebut. Dengan begitu Anda akan dinilai memiliki kesungguhan untuk bergabung dengan perusahaan. Bersiaplah, dan jadilah salah satu kandidat yang akan diperebutkan. Good Luck! (Rhm)

Berburu Peluang Emas di Jobfair



Sudah lulus tapi masih bingung cari kerja dimana. Ayo jangan hanya diam. Mari berburu pekerjaan di jobfair. Selain peluangnya banyak, bursa kerja juga bisa menjadi ajang menarik untuk memperluas relasi dan mengupdate perkembangan terbaru di bidang Anda, lho!

Saat ini banyak perusahaan yang sudah memanfaatkan jobfair atau bursa kerja sebagai ajang favorit untuk merekrut karyawan baru, terutama untuk kriteria entry dan middle level. Di tengah berjubelnya  informasi lowongan kerja baru saat ini, umumnya tempat ini juga menjadi pilihan populer bagi kalangan tenaga kerja fresh graduate, mahasiswa ataupun profesional untuk berburu peluang kerja. Jadi jangan kaget jika setiap jobfair akan selalu penuh sesak. Nah, agar jerih payah kita berjejealan di tengah bursa kerja tidak sia-sia, mari persiapkan segala keperluan untuk rebut peluang emas di jobfair. Berikut ini tiga hal utama yang harus Anda perhatikan sebelum mengunjungi jobfair.

KENALI JENIS JOBFAIR-NYA
Hal pertama yang harus kita cermati adalah mengenali lebih jauh tentang jobfair yang akan kita kunjungi. Terutama informasi mengenai lowongan dan jenis pekerjaan apa saja yang akan kita temui disana. Karena terkadang tidak semua jenis jobfair menawarkan semua jenis pekerjaan. Misalnya, ada beberapa universitas yang menyelenggarakan jobfair khusus  untuk kalangan atau alumni universitas tersebut.  Beberapa jobfair juga terkadang khusus diselenggarakan untuk mengakomodasi kebutuhan karyawan di bidang tertentu saja. Jadi pastikan terlebih dahulu jenis lowongan apa saja yang ditawarkan sehingga kunjungan Anda akan lebih efektif dan Anda tidak akan salah tujuan.

JANGAN HANYA WINDOW SHOPPING
Beberapa bursa kerja biasanya tidak dapat diakses secara gratis, artinya Anda harus mengeluarkan uang untuk dapat masuk ke dalamnya. Jadi jangan sampai Anda datang berjejalan, membuang waktu, tenaga, dan uang hanya untuk jalan-jalan dan melihat-lihat seperti di pameran. Jangan datang ke jobfair dengan minat “peruntungan”, dengan pikiran siapa tahu ada pekerjaan yang cocok, tanpa ada sasaran. Datanglah ke jobfair dengan persiapan serius layaknya Anda sedang mencari kerja. Ingat, ajang ini selalu penuh sesak dengan pengunjung dan persaingannya sangat ketat. Jadi, manfaatkan ajang jobfair dengan sebaik-baiknya, ya!

KETAHUI INFORMASI RINCI
Akan lebih memudahkan Anda jika Anda mencari tahu denah bursa kerja atau letak booth perusahaan-perusahaan yang Anda incar. Ingat, terkadang jobfair  diselenggarakan di gedung yang luas dan diikuti banyak perusahaan. Jika tidak memanfaatkan denah, mungkin Anda akan bingung dan kesulitan dalam mencari informasi pekerjaan yang Anda incar. Dengan bantuan denah, maka kita tidak perlu buang-buang waktu untuk sibuk berkeliling mencari booth perusahaan yang kita inginkan. Selain efisien, juga berguna untuk menghemat tenaga kita, kan? Satu lagi yang terpenting, jangan lupa cari tahu berkas-berkas yang harus dipersiapkan sesuai lowongan  pekerjaan yang kita incar. Selamat berburu ya, semoga sukses! (Rhm)

Saturday, April 9, 2011

MENEGOSIASIKIAN GAJI DI SESI INTERVIEW, HARUSKAH PASANG HARGA?



Selamat! Anda dipanggil officer perusahaan untuk mengikuti Interview test. Apa saja yang sudah Anda persiapkan? Dress up agar dilirik saja tentu tidak cukup. Namun Anda juga harus mempersiapkan diri untuk cermat dalam menjawab pertanyaan officer saat interview, salah satunya ketika ditanya tentang  tawaran “gaji”.
Berbicara soal negosiasi gaji saat sesi interview memang selalu menjadi hal yang mengkhawatirkan. Beberapa orang ahli yang sudah berpengalaman pun juga mengalami kekhawatiran ini. Takut tawaran yang diajukan terlalu tinggi sehingga menggagalkan interview test Anda dan kesempatan bekerja di perusahaan yang Anda inginkan lewat begitu saja. Atau dalam beberapa kasus tawaran gaji yang diminta jobseeker justru terlalu rendah sehingga menyesal di kemudian hari.
UKUR KEMAMPUAN PERUSAHAAN
Kebanyakan jobseeker masih merasa bingung ketika pewawancara mengajukan tawaran gaji yang diinginkan calon karyawan. Dalam interview, gaji ini perlu dinegosiasikan dengan tepat agar sesuai dengan kemampuan dan harapan jobseeker. Ketika proses negosiasi, haruskah jobseeker pasang “harga”? Sebelum menentukan “harga jual”, sebaiknya ukur dulu kemampuan perusahaan agar Anda tidak salah mengajukan penawaran.
Interviewer dari perusahaan tentu akan berusaha memberikan penawaran gaji lebih rendah dari yang seharusnya bisa Anda dapatkan. Nah inilah yang seringkali menjadi “jebakan” dalam Interview test. Jika Anda tidak siap bernegosiasi maka Anda bisa masuk ke dalam “jebakan” ini.
Lalu, bagaimana cara menegosiasikan gaji dengan tepat? Menurut Eko Zani Darmawan, Kepala Bidang HRD Mining PT. Newmont Nusa Tenggara (PT. NNT), yang pasti adalah Anda perlu mengajukan tawaran yang rasional. Untuk mengetahui berapa jumlah yang rasional ini, Anda mesti mencari tahu perkiraan standar gaji yang berlaku di perusahaan tersebut . “Anda harus mengukur kemampuan perusahaan dengan melakukan penelitian kecil-kecilan”, paparnya. Berikut ini beberapa faktor yang bisa Anda gunakan sebagai panduan untuk mengukur kemampuan perusahaan.
Kualitas Pribadi
Kualitas calon karyawan tentu menjadi salah satu pertimbangan penting yang harus dilihat pertama kali. Menurut Eko, hal ini dikarenakan setiap perusahaan menentukan standar penggajian berdasarkan latar belakang pendidikan, pengalaman kerja, dan prestasi seorang karyawan. Semakin tinggi nilai poin-poin tersebut seorang karyawan dianggap memiliki kualitas yang lebih. Pasalnya, karyawan dengan kualitas lebih ini diharapkan mampu memberikan kontribusi lebih pula bagi perusahaan. Sehingga tentu gaji yang didapatkan bisa lebih tinggi dari standar perusahaan. Nah, coba Anda nilai kualitas Anda sendiri apakah poin-poin yang Anda miliki sekarang sudah layak untuk digunakan dalam menegosiasikan “harga” yang tinggi saat interview?
Besar Perusahaan
Besar kecilnya perusahaan juga dapat Anda gunakan sebagai panduan untuk menentukan ekspektasi gaji. Pada umumnya perusahaan yang besar akan mampu membayar karyawannya dengan gaji yang cukup besar pula. Anda bisa mencari tahu standar gaji di perusahaan yang Anda inginkan dengan bertanya kepada teman atau kenalan yang sudah bekerja di sana atau mencarinya dengan browsing di internet. Selain itu, penting juga untuk mengetahui fasilitas apa saja yang ditawarkan perusahaan untuk karyawannya, tingkat kesejahteraan karyawan, serta bagaimana performa perusahaan tersebut saat ini. Dengan ini Anda dapat memperkirakan standar gaji perusahaan tersebut.
Jenis Industri
Sebelum menentukan gaji yang Anda inginkan sebaiknya Anda cari tahu dulu pekerjaan yang Anda inginkan ini bergerak di bidang apa. Karena berbeda jenis industri tentu akan berpengaruh pada parameter penggajian. Eko memberi contoh misalnya, perusahaan yang bergerak di bidang tambang dan oil and gas biasanya memiliki standar gaji yang lebih tinggi dibanding industri lain yang resiko kerjanya lebih rendah seperti perbankan. Selain itu, Anda juga bisa membandingkan rata-rata gaji untuk sebuah profesi tertentu di beberapa industri yang berbeda. Dengan gambaran umum ini, Anda dapat menentukan ekspektasi gaji secara lebih spesifik sehingga berguna dalam proses negosiasi nanti.
Lokasi Kerja
Lokasi atau tempat dimana kita akan bekerja tentu juga menjadi indikator penting untuk memperkirakan standar gaji. Setiap daerah pasti memiliki standar UMR dan gaya hidup yang berbeda. Oleh karena itu standar gaji sebuah perusahaan di kota besar dan kota kecil bisa berbeda meskipun perusahaan tersebut bergerak di bidang yang sama sekalipun. Kecenderungannya, perusahaan yang berlokasi di kota besar akan memiliki standar gaji yang lebih tinggi dibandingkan yang berada di kota kecil. Namun, bukan berarti perusahaan yang berada di kota kecil tidak mampu memberi gaji lebih tinggi. Hal ini ditentukan kembali oleh skala perusahaan serta jenis industri perusahaan tersebut. Seperti PT. Newmont Nusa Tenggara misalnya yang merupakan sebuah perusahaan swasta asing yang bergerak di industri pertambangan, diakui Eko memiliki standar gaji yang tinggi meskipun lokasinya berada di sebuah kota kecil di Pulau Sumbawa.
Iklim Bisnis
Iklim bisnis yang cenderung berubah dari waktu ke waktu akan turut mempengaruhi performa perusahaan yang berdampak pula pada pendapatan karyawan. Dalam situasi krisi ekonomi misalnya, banyak perusahaan yang tidak mampu menaikkan gaji karyawan. PHK (pemutusan hubungan kerja) justru terjadi di banyak perusahaan yang tidak sanggup menggaji karyawannya.  Sebaliknya, ketika kondisi ekonomi membaik, beberapa perusahaan bahkan bisa memberikan kenaikan gaji karyawan hingga mencapai 30%. jadi jangan lupa untuk melihat dan mempertimbangkan iklim bisnisuntuk menentukan standar gaji yang Anda inginkan. Jangan sampai Anda memasang harga tinggi di saat banyak perusahaan tidak mampu membayar lebih dari gaji standar.

Nah..dengan mempelajari faktor-faktor di atas, Anda bisa menentukan standar gaji yang Anda inginkan dengan lebih masuk akal. Bersiaplah dan lakukan penelitian kecil-kecilan dengan cermat dari sekarang agar Anda bisa dengan percaya diri memberikan tawaran gaji saat negosiasi. Jadi, apakah “harga jual” yang Anda pasang sudah sesuai dan pantas untuk Anda? (Rahma)

Karir Manis, Rumah Tangga Harmonis



Menjalani peran ganda sebagai wanita karir dan istri sekaligus ibu tentu bukan hal yang mudah. Jika tidak siap menghadapinya, maka dapat memicu munculnya potensi konflik dalam rumah tangga. Jika sudah begini, apakah berhenti kerja adalah solusinya? Khusus untuk Anda para wanita, simak beberapa tips agar karir dan rumah tangga berjalan seimbang berikut ini sebagai bekal jika Anda berkarir dan berkeluarga nanti.

Nikmati masa lajang, berkarir sepuasnya
Berada di posisi penting perusahaan, menghasilkan karya yang membanggakan dan bisa melakukan pekerjaan yang diidamkan tentu menjadi sebuah kepuasan tersendiri bagi seorang wanita. Selagi Anda masih lajang dan belum memiliki kewajiban moral terhadap pasangan, maka nikmatilah masa lajang Anda untuk melakukan apapun yang Anda suka, termasuk mengejar karir hingga yang paling tinggi. Anda memiliki kesempatan dan energi yang begitu banyak, jadi pergunakan dengan sebaik-baiknya untuk meraih puncak karir dan menikmati pekerjaan Anda. Apalagi, terkadang banyak pria yang tidak siap jika pasangan hidupnya berada di titik yang lebih tinggi, baik dari sisi karir, status sosial maupun financial. Sebelum Anda berkeluarga, pergunakan masa lajang ini untuk show up your best on career. Jadi jika nanti suami ataupun kondisi memaksa Anda untuk berhenti bekerja, Anda tidak perlu menyesal.

Jika memutuskan untuk menikah, kompromikan dengan pasangan
Akan lebih baik jika Anda menunda pernikahan dan fokus pada pengembangan karir. Anda tentu akan memiliki lebih banyak waktu dan kesempatan untuk mengembangkan karir Anda. Misalnya Anda bisa lebih leluasa jika harus dipindah tugas ke daerah yang berbeda-beda, atau mengikuti berbagai program  training dan beasiswa di luar negeri. Terkadang beberapa perusahaan juga tidak memperbolehkan karyawannya untuk menikah terlebih dahulu untuk menduduki posisi tertentu. Namun, keputusan mengenai pernikahan ini adalah sepenuhnya milik Anda. Kalaupun Anda memutuskan untuk menikah, maka kompromikan dengan pasangan tentang masalah pekerjaan dan pembagian peran dalam rumah tangga nanti. Menurut Emma Aliudin, Editor in Chief Chic Magazine, idealnya setiap hubungan baik hubungan kerja maupun suami istri harus dilandasi komitmen dan masing-masing pihak harus mematuhinya. Idealnya tidak ada pihak yang merasa dirugikan. Jadi jika Anda sudah bisa mengkompromikan komitmen tersebut disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing, maka Anda tidak perlu khawatir. Bekerja sambil berumah tangga tentu menjadi hal yang tidak mustahil jika kedua belah pihak mampu menjalaninya dengan baik.

Pilih pekerjaan yang tidak full time
Ketika sudah berumah tangga tentu seorang wanita memiliki kewajiban dan tanggung jawab yang lebih besar dibandingkan ketika masih lajang. Anda juga dituntut untuk memiliki lebih banyak waktu untuk mengurus rumah tangga. Padahal, menjadi wanita pekerja juga terikat tanggung jawab terhadap perusahaan. Jangan sampai masalah pembagian waktu yang tidak seimbang antara pekerjaan dan rumah tangga ini menimbulkan masalah bagi Anda. Siasati dengan cara memilih jenis pekerjaan yang tidak menyita waktu Anda sepanjang hari sehingga Anda juga masih memiliki waktu untuk mengurus rumah tangga. Pekerjaan seperti dosen, guru, dan PNS yang hanya bekerja setengah hari adalah beberapa contoh yang cocok bagi para wanita ibu rumah tangga. Selain itu, banyak pekerjaan yang kini bisa dilakukan di rumah, misalnya menjadi penulis, konsultan psikolog, bidan, atau dokter. Jika Anda bisa bekerja dari rumah, ini akan lebih baik karena Anda bisa menjalankan kedua peran sebagai wanita pekerja dan juga ibu rumah tangga sekaligus.  

Berbisnis
Untuk dapat menjadi ibu rumah tangga dengan meninggalkan pekerjaan yang dicintai memang membutuhkan keikhlasan yang besar. Anda juga harus menyiapkan mental ketika Anda tidak lagi memiliki penghasilan sendiri, atau tidak bisa lagi sekedar berpakaian rapi ala wanita kantoran. Jika Andamerasa bosan dengan pekerjaan rumah tangga dan ingin tetap merasa berguna serta mandiri secara financial, Anda bisa mencoba untuk berbisnis. Saat ini banyak sekali peluang usaha yang bisa anda jalani. Apalagi, bisnis ini Anda sendiri yang mengaturnya, jadi Anda bisa bekerja tanpa diikat jam kerja dan tentu saja tanpa mengganggu peran Anda sebagai istri maupun ibu rumah tangga. Jika Anda tekun, maka bisnis menjadi salah satu peluang yang menggiurkan yang patut Anda coba. (Rhm)